Selasa, 24 Maret 2009

Kybernology

(Ilmu Pemerintahan Baru)
“It took less than an hour to make the atoms, a few hundred years to make the star and planets, but three billion years to make man”
George Gamow, the creation of universe (1952)

Istilah Bestuurkunde atau yang kemudian menjadi Bestuurswetenschappen menjadi Ilmu pemerintahan dalam bahasa Indonesia semakin menunjukkan ketidak sepandanan yang mengakibatkan perubahan khususnya Ilmu pemerintahan mejadi the others bagi ilmu-ilmu induknya. Gejala-gejala perubahan ke arah tersebut mulai terlihat sepanjang tahun 90-an, terjadi berbagai peristiwa tentang dan sekitar ilmu pemerintahan di Indonesia.
Pertama, perubahan paradigma ilmu Pemerintahan sebagai bagian integral ilmu politik menjadi ilmu Pemerintahan yang ber-Interface dengan ilmu-ilmu lain di lingkungan ilmu sosial, khususnya ilmu politik dan ilmu administrasi negara.
Kedua, semakin jelas perbedaan antara bahan dan (konstruksi) bangunan Ilmu administrasi (publik) dengan bahan dan bangunan ilmu pemerintahan.
Ketiga, derajat keilmuan Ilmu Pemerintahan meningkat, dari derajat S1 memasuki derajat S2 (Magister, sejak 1996), dan S3 (Doktor, sejak 2000).
Keempat, perubahan pembelajaran dan penggunaan Ilmu Pemerintahan dari Ilmunya (kebutuhan) pegawai negeri khususnya di lingkungan Departemen Dalam Negeri menjadi Ilmunya (kebutuhan) setiap orang sebagai alat untuk menumbuhkan hubungan pemerintahan yang dinamik berorientasi pembaruan antara yang diperintah dengan pemerintah dalam rangka memenuhi tuntutan setiap orang akan jasa-publik dan layanan-civil.
Kelima, penerapan Metodologi kualitatif untuk penelitian di lingkungan ilmu Pemerintahan.
Keenam, penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam Ilmu Pemerintahan yang disebut e-goverment
Ketujuh, adalah aliran “Reiventing Government” David Osborne dan Ted Gaebler (1993) yang sedikit banyak mempengaruhi pemikiran, kebijakan, program dan pelatihan pegawai di Indonesia sampai sekarang.
Kedelapan, pemikiran, kebijakan, program, dan diklat pemerintahan sepanjang tahun 90-an diilhami oleh semangat riventing government Osborne dan Gaebler (1993) yang oleh Amerika diekspor ke berbagai negara.
Kesembilan, suasana tahun 90-an di Indonesia sedikit banyak mempunyai persamaan dengan suasana tahun 60-an abad lalu di Amerika, sebuah periode yang disebut the time turbulence, yang melahirkan the new public administration atau yang oleh George Frederickson (1997,8) kemudian dijuluki the new governance.
Kesepuluh, erat berkaitan dengan hal kesembilan di atas. Satu-satunya jawaban yang terhadap tantangan di atas adalah back to basic. Dengan mengembalikan konsep government dan governance.

Kesepuluh hal tersebut merupakan beberapa sebab yang disorot dalam buku yang berjudul KYBERNOLOGY (Ilmu Pemerintahan Baru) dalam proses pengembalian makna Bestuurswetenschapen menjadi Kybernologi. Bestuurskunde berasal dari dua kata Belanda: bestureni (mengemudi; Inggris Steering) dan Kunde (kepandaian; Inggris craft, skill).Bestuurskunde berkembang menjadi Bestuurswetenschap, Bestuurswetenschappen (jamak). Steering dalam bahasa Latin adalah gubernare, sedangkan dalam bahasa Gerik (Greek) kybernan. Gubernare berubah menjadi Gubernantia dan dari sini terbentuk kata governance.
Uraian di atas menunjukkan bahwa penerjemahan Bestuurkunde dan kemudian bestuursweetenschap (pen) yang lahir dalam masyarakat barat atau demokratik menjadi ilmu pemerintahan bagi bangsa yang menganut paham pemerintahan seperti di atas, tidak tepat. Menurut tradisi akademik sifat ilmiah suatu pengetahuan ditandai dengan kata logos atau logi (logy). Jika demikian ada dua opsi padanan Bestuurswetenschap(pen): Gubernologi atau Kybernology. Mengingat kata Gubernare telah berkembang menjadi governance dan government, dan dalam bahasa Indonesia telah menjadi Gubernur, maka Kybernologi (kybernology) yang digunakan menjadi padanannya.
Buku ini bisa dianggap buku Panduan Ilmu Pemerintahan dengan paradigma baru di mana Ilmu Pemerintahan ini saat ini menjadi The Others terhadap ilmu induk sebelumnya yaitu politik. Di dalam buku ini diulas secara menyeluruh bagian-bagian Kybernologi. Dengan menitikberatkan pembahasan pada persoalan reiventing people, reiventing government, dan reegenering government memperlihatkan bagimana ilmu pemerintahan terus berkembang menjadi Kybernologi, berikut cakupan-cakupannya yang merupakan pendekatan lintas (trans) disiplin ilmu, seperti manajemen pemerintahan, organisasi pemerintah, koordinasi pemerintahan, teologi pemerintahan, etika pemerintahan, budaya pemerintahan, asas-asas pemerintahan dan lain-lain.
Buku ini sarat dengan berbagai istilah pemerintahan yang berasal dari bahasa asing dalam bahasa aslinya, tata bahasa dan pemilihan kata yang sulit dan berat bisa mempersulit pembaca yang masih awam dan karena itulah buku ini sangat cocok dan dianjurkan bagi pembaca yang berasal dari kalangan akademis dan praktisi yang mengkaji dan bergelut dalam bidang pemerintahan. Sebagai bahan acuan dan panduan bagaimana arah ilmu pemerintahan ke depannya.
Buku ini telah menjadi buku yang sangat berharga dalam bidang ilmu pemerintahan dalam menunjukkan bagaimana perkembangannya khususnya di Indonesia. Kepiawaian si Pengarang Tliziduhu Ndraha, yang namanya sudah asing lagi khususnya di kalangan akademisi Ilmu Pemerintahan di Indonesia, dalam mengolah buku berjudul Kybernologi ( Ilmu Pemerintahan Baru) ini.

3 komentar:

  1. hai... saya tertarik banget sama kybernology.. bisa minta source yang membahas tentang Kybernology lebih dalam nggak..??

    mohon bimbingan yach.. saya Mahasiswa Administrasi Negara di Universitas Negeri Manado...

    drop me some e-mail di dlompoliuw@aol.com

    BalasHapus
  2. wah bagus juga nih buku yg berjudul keybernologi bisa minta penjelasan yg lebih mendalam gak...?

    terimakasih yah..saya mahasiswa ilmu pemerintahan universitas pancasakti tegal,jawa tengah,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. ..indonesia, asia tenggara, asia, dunia. ahahaha..

      Hapus